“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu
mendapat keberuntungan.” (Al-Maidahh :
35)
Tafsirnya
:
يا أيها المؤمنون
إتقوا الله بالتزام شراعته و أحكامه، واطلبوا ما يتوسل به إلى رضاه تعالى، وهو
العمل الصالح، او لوسيلة : القربه، وجاهدوا لاِعلا كلمة الدين، لتفوزوا النجاة و
الجنة.
Ada tiga perintah Allah yang diwajibkan atas
orang beriman :
A. Bertakwa
kepada Allah apabila kita berdosa.
Orang-orang beriman wajib melaksanakan Syariat-syariat
Allah, yakni perintah Allah mesti dikerjakan dan larangan Allah harus
ditinggalkan. Apabila Allah menjadikan kita selaku pemimpin dalam masyarakat,
apabila kita memegang pemerintahan yang dipercayakan umat kepada kita untuk
memimpin mereka maka hendaklah syariat Allah mesti kita kerjakan dengan membuat
undang-undang peraturan-praturan yang tidak bertentangan dengan syariat Allah
SWT.
Apabila
kita dilimpahkan Allah pengetahuan keagamaan, Allah Ta’ala perintahkan kepada
kita supaya ilmu yang dilimpahkan tersebut untuk diamalkan dan kita berikan
petunjuk-petunjuk kepada umat. Nilai-nilai Islam agar dapat diamalkan dijadikan
undang-undang atau peraturan-peraturan agar dijadikan pedoman oleh umat Islam dalam
berbagai kegiatan hidup dan kehidupan mereka. Perintah Allah kepada Ulama,
untuk menyampaikan dan menyebarluaskan perintah-perintah Allah, untuk diamalkan
dan larangan-larangan Allah untuk dijauhkan.
Bagi ulama yang khusus membidangi
kerohanian, berupa nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai syariat agama kita
Islam wajib disampaikan kepada umat. Agar umat terpetunjuk kejalan Allah.
Berakhlak dengan akhlak islami dari segala yang baik untuk diamalkan dan segala
yang tidak baik untuk dihentikan. Inilah makna dari kalimat tafsir diatas : إتقوا الله بالتزام
شراعته . Bertawakkallah kalian kepada
Allah dengan melaksanakan syariat-syariat Allah dengan hukum-hukum-Nya. Kalau
tidak maka kita berdosa besar. Justru pada hal-hal yang mampu kita mengaturnya
dan mengundangkannya tetapi kita pura-pura tidak tahu. Para ulama sudah lepas
tanggung jawabnya apabila nilai-nilai kebenaran yang telah disampaikan mereka.
B.
Kita Wajib mencari waasilah.
Yakni senantiasa
mencari jalan-jalan untuk kita senantiasa dalam ridha Allah. Jalan-jalan itu
merupakan amal shalih, karena dengan amal shalihlah kita dapat mendekatkan diri
kepada Allah SWT. Diantara wasilah itu ialah kita wajib mematuhi segala
apa yang disampaikan oleh Nabi kita, Muhammad SAW. Karena apa yang telah
disampaikan oleh baginda Rasulullah adalah memperkuat nilai-nilai kebaikan yang
telah disampaikan oleh para Nabi dan para Rasul sebelumnya.
Ahli
tafsir juga mengatakan supaya kita mencintai para wali Allah. Berupa para ulama
yang shalih dan tekun yang senantiasa berjuang dengan ilmunya dan amalnya untuk
menunjuki umat kepada jalan Allah. Para ulama yang seperti ini banyak kita
temukan di Aceh, baik dalam sejarah Aceh sejak zaman dahulu hingga sampai pada
akhir abad yang ke-20. Bahkan juga masih ditemukan pada zaman sekarang ini
walau sangat sedikit jumlahnya, tetapi dapat diketahui perjuangan mereka bahkan
kadang-kadang ilmu mereka dimanfaatkan oleh Negara dan Bangsa. Meskipun negara
kita tidak berdasarkan Islam tetapi hakekat Islam masih diindahkan dan karena
itu berhasillah kemerdekaan Indonesia ini dan berhasil pulalah keamanan dan
kedamaian di Nanggroe Aceh ini. Maka hal keadaan ini adalah tidak terlepas dari
pada petunjuk-petunjuk para ulama yang ikhlas menunjuki umat kejalan Allah.
Bahkan juga
sewajarnya, kita berziarah kepada para ulama dan para wali Allah, yang mereka
adalah hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya. Tidak lupa kita berdoa kepada Allah
ta’ala, baik ketika berziarah ke makam para ulama sehingga kita tidak terlepas
dan senantiasa ingat kepada nilai-nilai yang disampaikan oleh Ulama atau Wali
Allah yang kita ziarahi tersebut. Yang apabila nilai-nilai itu kita jadikan
petunjuk untuk umat, Insya Allah kita akan diselamatkan oleh Allah, dan Allah –
Insya Allah – akan menyampaikan hajat dan cita-cita kita. Insya Allah! Jalan
kita akan terang diterangi oleh Allah dan kita senantiasa dalam keadaian damai.
Terhindar dari pada hal-hal negatif yang timbul dalam masyarakat itu, yang
membawa perpecahan antara sesama kita. Apalagi hal negatif dan bahaya tersebut menyerang
aqidah umat Islam dan syariat dalam agama Islam itu sendiri. Tentu saja hal
keadaan negatif yang menggerogoti pemahaman aqidah umat, harus ditangani dengan
serius oleh kita semua. Sehingga kehidupan beragama kita, dapat kembali
terlaksana sedemikian rupa, dan kita dapat melaksanakannya dengan nilai-nilai
yang telah dikembangkan oleh para ulama kita dan mujahid-mujahid kita sejak
zaman dahulu kala. Mereka para ulama Aceh yang tidak asing lagi bagi kita
siapa-siapa mereka, mereka telah berbuat banyak dengan menyampaikan ilmu
pengetahuan keagamaan, yang selalu dibarengi dengan adat yang tidak bertentangan
dengan nilai-nilai agama itu sendiri.
C. Hendaklah kita terus berjuang di jalan Allah, bahkan
apabila dengan perjuangan itu kita syahid karena mempertahankannya, maka kita
sukses dunia akhirat, لعلكم تفلحون demikian maknanya.
Seperti yang
telah diwarisi dari Nabi Muhammad SAW, para Sahabanya, para pengikutnya baik
salaf maupun khalaf. Akidah yang benar yang harus kita kembangkan adalah akidah
Ahlusunnah wal jam’ah. Demikian menurut Hadist Nabi dan ketetapan para ulama
Islam anda bisa membacanya dari kitab Ihya Ulumuddin dan kitab-kitab Tauhid,
yang sama-sama dimaklumi bagi kita orang Aceh khususnya. Demikian pula pada
hal-hal yang berkenaan dengan syari’at. Yang berkembang luas pada fiqh Islam,
dimana analisa-anilas pemahaman yang benar telah terkumpul oleh empat Mazhab,
yaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan mazhab Hanbali. Begitu pula dalam
bidang tasawuf, semuanya telah tertera peninggalan dari pada ulama-ulama besar
sejak zaman dahulu kala.
Inilah
nilai-nilai yang harus kita pahami, tidak boleh menyimpang dari padanya dan
apabila kita mempertahankannya, kita harus mempertahankan dengan jiwa raga kita.
Apabila kita wafat dalam mempertahankannya, maka kita mati syahid. Inilah
pegangan umat Islam sedunia, yang mereka berada dibawah panji Islam Ahlusunnah
wal Jama’ah. Dan atas dasar ini pulalah perjuangan ulama Islam yang di Aceh,
seperti Tgk. Chik Kuta Karang, Tgk. Syiah Kuala, dan lain-lain. Dan
pada akhir abad ke-20, dilanjutkan lagi dengan berkembangnya pendidikan pesantren.
Diantaranya dikembangkan oleh Syekh Hasan Krueng Kalee dan Syaikhul
‘Am Maulana Syeikh Maulana Muda Wali al-Khalidi. Dan diikuti oleh
murid-murid kedua beliau di Aceh ini. Meskipun sudah banyak meninggal ulama
tetapi generasi ulama Ahlususnnah akan berjuang terus hingga sampai pada akhir
zaman. Semoga Allah melimpahkan rahmat kedamaian dengan segala nikmat-nikmat
Allah yang terkandung di dalam bumi Aceh ini. Semoga Allah menyelamatkan kita
semua, dunia kita dan agama kita hingga kita mencapai Husnul Khatimah dan
Husnul ‘Aqibah. Semoga Allah senantiasa menyertai segala gerak langkah kita
dan Nanggroe Aceh tercinta in hingga berakhirnya dunia yang fana ini.
Sumber :
Abuya Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Muhammad Waly
Thanks for reading & sharing PENGAJIAN TASAWUF



0 comments:
Post a Comment